percayalah, kita terlalu jauh karna aku
kau sudah begitu lelah merangkulku
aku tak sadar,
waktu terus akan berputar dengan atau tanpa aku
kita adalah aku yang tak mau berani untuk lebih
ruang dan gubuk kotak bermesin itu jadi saksi
kau tak kunjung lelah menanyakan
aku terus memberi alasan, bukan penjelasan
aku mengaku, aku tak seberani itu
dan aku ternyata masih sepengecut itu
aku masih sering bersembunyi
dan sering menipu diri
hingga lupa, kau akan lelah mengerti
kau akan terus berjalan,dan aku tetap berdiam
berjalan melewati dan semakin jauh
aku akan berdiam dan tertinggal
hingga tulisan ini kuselesaikan
aku tak punya keputusan apapun untuk kita
kau yang lelah, aku yang selalu mencari celah
silakan terlelap,
lupakan hari itu
saat aku mulai berjanji.
Sunday, 26 November 2017
Saturday, 9 September 2017
Awal Mula nan Pertama
Riang dan senyum kau lempar
Salam dan hibur sudah diberi
Sesekali tarian dan ajakann dipetik gitar
Seisi ruang juga seakan ikut menjadi saksi
Tak lupa lentikan mata ikut kau Tarik
Aku masih dalam lamunanku
Tertegun dan ingin segera pulang
Sesekali menggerutu
Lalu membatu karna lelah
Aku masih coba bersembunyi
Tak ada yang perlu tau
Tak ada yang akan tau, Gumamku
Lalu
Kau kudapati
Masih penuh malu kala itu
Hangat dan menyala nyaliku
Kau berlari
Tapi masih memperhatikan nyatanya
Kau bersembunyi dengan senyum kecil
Kugoda tuk marilah menyapaku
Aku sudah sadar, aku bukan perayu handal
Kau tak hiraukan
Malah hanya tinggalkan simpul pesan
"apa kau kini masih ingin pulang?"
Salam dan hibur sudah diberi
Sesekali tarian dan ajakann dipetik gitar
Seisi ruang juga seakan ikut menjadi saksi
Tak lupa lentikan mata ikut kau Tarik
Aku masih dalam lamunanku
Tertegun dan ingin segera pulang
Sesekali menggerutu
Lalu membatu karna lelah
Aku masih coba bersembunyi
Tak ada yang perlu tau
Tak ada yang akan tau, Gumamku
Lalu
Kau kudapati
Masih penuh malu kala itu
Hangat dan menyala nyaliku
Kau berlari
Tapi masih memperhatikan nyatanya
Kau bersembunyi dengan senyum kecil
Kugoda tuk marilah menyapaku
Aku sudah sadar, aku bukan perayu handal
Kau tak hiraukan
Malah hanya tinggalkan simpul pesan
"apa kau kini masih ingin pulang?"
tiga bagi satu
Saya rindu
tunggu dulu
kamu tak perlu
tetaplah disitu
kataku
aku menunggu
aku hendak menertawai senyummu
dan tadi malam senyummu menghampiri aku
kau tanya, tentang waktu?
tetaplah dongeng malam itu terjaga, sampai kau pulang lalu aku terbangun. aku sadar dan kita masih sangat jauh. tak ada yang tersentuh, tak ada percakapan dikala sore yang kujannjikan, atau tak ada perjalanan mengintari kota yang sempat kau tawarkan. dan, tak ada jawab untuk semua tanya rapi kusiapkan dalam memoku kala itu, harapku kau akan bercerita dan sesekali aku menarik pelukmu kala kau ingin pulang karna tersadar hari nyaris berakhir.
tunggu dulu
kamu tak perlu
tetaplah disitu
kataku
aku menunggu
aku hendak menertawai senyummu
dan tadi malam senyummu menghampiri aku
kau tanya, tentang waktu?
tetaplah dongeng malam itu terjaga, sampai kau pulang lalu aku terbangun. aku sadar dan kita masih sangat jauh. tak ada yang tersentuh, tak ada percakapan dikala sore yang kujannjikan, atau tak ada perjalanan mengintari kota yang sempat kau tawarkan. dan, tak ada jawab untuk semua tanya rapi kusiapkan dalam memoku kala itu, harapku kau akan bercerita dan sesekali aku menarik pelukmu kala kau ingin pulang karna tersadar hari nyaris berakhir.
Seisi Aksara Kepala
Malam berlalu hingga pagi
Kita tak kian jadi
Sedangkan rindu nyalanya dan tak ingin pergi
Kau tau
Aku tak begitu
Kita kini bertamu
Menangis lalu merindu
Aku tak siap (lagi) menahan pelukmu
dihari yang dulu kau mau
Binasah, lalu kembali
Tak ada langit yang membiru, kataku
Kau jawab dengan cumbu
Aku terlalu banyak menabuh rindu
Hari itu
Kuta Kota kita
Terlalu cepat kau habiskan dengan cerita
Lantas kubalas dengan dosa
Kau bianglala yang membiru
Semua cerita kita telan jadi satu
Setelahnya jadi asing dan tak tau-menau
Silahkan merindu
Aku mulai jenuh
Kaupun tak lagi tau
Aku sudah membiru
Mati dan membeku
dan kini, bagaimana nasibmu?
Kutanya dimana namamu?
Kita tak kian jadi
Sedangkan rindu nyalanya dan tak ingin pergi
Kau tau
Aku tak begitu
Kita kini bertamu
Menangis lalu merindu
Aku tak siap (lagi) menahan pelukmu
dihari yang dulu kau mau
Binasah, lalu kembali
Tak ada langit yang membiru, kataku
Kau jawab dengan cumbu
Aku terlalu banyak menabuh rindu
Hari itu
Kuta Kota kita
Terlalu cepat kau habiskan dengan cerita
Lantas kubalas dengan dosa
Kau bianglala yang membiru
Semua cerita kita telan jadi satu
Setelahnya jadi asing dan tak tau-menau
Silahkan merindu
Aku mulai jenuh
Kaupun tak lagi tau
Aku sudah membiru
Mati dan membeku
dan kini, bagaimana nasibmu?
Kutanya dimana namamu?
Selesai Saja
Kecewa dibalas dengan kecewa
Terimakasih sudah mengajarkanku tentang banyak hal
Salah satunya, tentang menunggu
Kau mungkin adalah perunggu
Siap mati demi usaha yang tak kenal waktu
Atau aku saja yang mesti jadi batu?
Berkelit dan merengkuh rindu yang lain
Sambil sesekali menawarkan pulang
Harusnya aku lebih cepat pulang
Berlindung dibalik kamar rumah
Lalu melahap beberapa masakan bunda
Harusnya juga kau tak perlu kusapa
Agar tak ada rasa ingin jumpa
dan tak pula ada rasa kecewa karna sempat terlupa
Harusnya dia tak ikut jadi bagian dari kita
dan kau tak perlu bermuka api ketika melihatnya
Kemudian dia pun tak perlu sungkan menawarkan "mari kuantarkan berkeliling kota.."
Aku akan (segera) pulang, dan kau akan datang. lagi-lagi kita bukan alasan untuk bersama. mungkin hanya untuk alasan, kenapa waktu itu dia harus aku pindahkan.
(Bukittinggi, 2 September 2017)
Terimakasih sudah mengajarkanku tentang banyak hal
Salah satunya, tentang menunggu
Kau mungkin adalah perunggu
Siap mati demi usaha yang tak kenal waktu
Atau aku saja yang mesti jadi batu?
Berkelit dan merengkuh rindu yang lain
Sambil sesekali menawarkan pulang
Harusnya aku lebih cepat pulang
Berlindung dibalik kamar rumah
Lalu melahap beberapa masakan bunda
Harusnya juga kau tak perlu kusapa
Agar tak ada rasa ingin jumpa
dan tak pula ada rasa kecewa karna sempat terlupa
Harusnya dia tak ikut jadi bagian dari kita
dan kau tak perlu bermuka api ketika melihatnya
Kemudian dia pun tak perlu sungkan menawarkan "mari kuantarkan berkeliling kota.."
Aku akan (segera) pulang, dan kau akan datang. lagi-lagi kita bukan alasan untuk bersama. mungkin hanya untuk alasan, kenapa waktu itu dia harus aku pindahkan.
(Bukittinggi, 2 September 2017)
Wednesday, 22 February 2017
Cerita Kamu
Bicaralah.
Ragamu sudah begitu
rapuh,begitu
Sesekali kau masih
mencoba melihat namun lebih sering ragu
Menangislah
Kau tak perlu takut dunia
tertawa kali ini
Kali ini kau hanya perlu
acuh dan menuangkan semua amarahmu kepada air mata
Bertahanlah
Jika menurutmu itu perlu,
tetaplah disini
Semoga aku pula ikut
menunggu lalu kau tak lupa kita sudah begitu jauh
Berbaliklah
Disini aku memandangmu
ragu,
Disana kau menguji setiap
langkahku
Tersenyumlah
Sekalipun kau tengah
menghadapi dia yang begitu merah
Aku masih menunggumu
mengeluarkan sebuah senjata andalanmu itu.
Berjalanlah
Sembari aku masih terus
mencari
Kau boleh saja menari
lalu perlahan meninggalkan
Datanglah
Kau sudah begitu banyak
menerima tamu
Kukira kau perlu sedikit
hiburan dan jika boleh, datanglah. Kepadaku.
Subscribe to:
Comments (Atom)
(masih) salahku
menurutku, beberapa kisah yang tak menarik tak perlu repot-repot dibuatkan tulisannya, kukira kau bukan salah satunya. memberi luka juga me...
-
Atas : Aku, dan Tira Bawah : Hera dan Rani Bermula dari sebuah pertemuan yang aku angg...
-
aku gak pernah peduli kata orang. aku juga gak pernah mau tau gimana hal "sebenarnya" walau aku tau, dan berhak tau. ta pi ak...
-
menurutku, beberapa kisah yang tak menarik tak perlu repot-repot dibuatkan tulisannya, kukira kau bukan salah satunya. memberi luka juga me...